[Review] Frankenweenie

Frankenweenie (2012)
Date of watching: 29 October 2012
Cinema: Setiabudi One 21
Duration: 87 minutes
Starring by: Charlie Tahan, Winona Ryder, Frank Welker
Directed by: Tim Burton

Intisari: Sparky, anjing kesayangan sekaligus sahabat satu-satunya Victor Frankenstein (Charlie Tahan) mati tertabrak sebuah mobil saat sedang mengejar bola bisbol. Victor yang tak punya teman merasa sangat kehilangan dan sedih. Semangatnya menyala lagi saat pelajaran kimia di sekolahnya mengilhaminya untuk menghidupkan kembali sang anjing. Sparky kembali hidup, namun kondisinya tak sama lagi dan segudang masalah pun mulai bermunculan setelah keajaiban itu terjadi. Sanggupkah Victor mengatasi semua masalah itu? Atau haruskah dia merelakan Sparky pergi untuk selama-lamanya?

###

Awalnya gue sempet bingung dengan judul film animasi yang disutradari sama Tim Burton ini. Kenapa bingung? Iya, soalnya kalo yang gue tangkep, “Frankenweenie” itu diambil dari dua kata, “Frankenstein” dan “weenie”. Okelah, kalo denger Frankenstein udah banyak yang kenal, paling tidak punya sedikit bayangan tentang wujud tokoh fiksi horor rekaan Mary Shelley itu. Potongan ide cerita dalam Frankenstein pun diambil dan diadaptasi ke dalam film ini. Tapi yang gue nggak ngerti adalah kenapa ada kata “weenie”? Itu kan artinya…… ah, sudahlah ya, cukup Mbah Google aja yang menjelaskan.

Sambil mengatur posisi duduk yang enak di bioskop, gue pun mencoba mengaitkan bahwa “weenie” mungkin saja nama tokoh anjing yang mencolok di poster film ini. Dan ternyata bukan juga….

Cukup bahasan tentang judul filmnya. Yang mau gue sorotin dari film ini adalah keindahan cerita serta penyajiannya. Film animasi ini kalo diibaratkan mirip sebuah lemari berisi buku-buku fiksi horor populer. Mulai dari tokoh-tokoh di dalamnya yang mengambil nama-nama penting di dunia fiksi horror seperti Shelley, si kura-kura peliharaan Toshiaki, yang mengambil nama belakang pengarang kisah Frankenstein.

Juga nama keluarga Van Helsing yang dipakai Elsa, teman sekelas Victor yang juga tetangganya, sama dengan nama Abraham Van Helsing yang merupakan musuhnya Dracula dalam fiksi karangan Bram Stoker. Lalu bisa dilihat pula penampilan Nassor, salah satu teman sekelas Victor, benar-benar mirip dengan gambaran Frankenstein di film-film pada umumnya. Di film ini, Burton dengan apik membagi-bagikan karakteristik Frankenstein pada beberapa tokohnya, sehingga tidak terkesan terlalu menyeramkan untuk penonton dewasa.

Meskipun begitu, harus gue akui bahwa untuk film anak-anak, Frankenweenie agak sedikit menyeramkan dan bisa jadi membuat mereka kurang nyaman. Lho kok begitu? Soalnya, film ini “miskin” warna di mata anak-anak, hanya hitam dan putih, sementara kebanyakan anak sangat suka dengan film animasi bertampilan visual kaya warna dan efek. Dari segi animasi, film ini seperti kembarannya Corpse Bride yang juga garapannya Burton. Cuma bedanya Corpse Bride lebih berwarna dibandingkan Frankenweenie.

Selain faktor warna tersebut, kisah ini merupakan kisah adaptasi dari salah satu karya sastra gothic paling terkenal sepanjang sejarah ke dalam film animasi. Di Amerika Serikat, gue yakin anak-anak SD sudah mengenal siapa Mary Shelley dan sosok Frankenstein. Tapi di sini? Oho, nanti dulu! Bahkan seorang teman yang gue tanyain tentang Frankenstein pun kesulitan untuk mengingat nama tersebut, meskipun merasa nama itu tidak asing lagi di telinga.

Faktor “menyeramkan” lainnya di film ini adalah musik latarnya. Frankenweenie boleh jadi bikin jengah penonton yang tidak biasa nonton film hitam-putih, namun untuk urusan scoring, Danny Elfman nggak pernah gagal menghidupkan emosi penonton. Dua jempol buat suara-suara mencekam yang diciptakan oleh musisi langganan scoring di film-filmnya Burton ini.

Terlepas dari gambaran “suram dan menyeramkan” itu, menurut gue film ini sangat bagus ditonton oleh anak-anak. Kenapa begitu? Sebab Frankenweenie disajikan dengan sangat memikat dan isi ceritanya dekat dengan keseharian anak-anak. Kehilangan hewan peliharaan kesayangan, bersaing ngedapetin nilai bagus dengan teman-teman di sekolah, sampai kebiasaan ‘mengadu’ yang khas anak-anak juga ada di film ini.

Frankenweenie, dalam caranya yang gothic sekaligus menggemaskan, mengajarkan baik penonton dewasa maupun anak cara menghadapi kehilangan dan betapa pentingnya melakukan usaha terbaik demi orang atau hal yang kita cintai.

Kelebihan lainnya dari film ini adalah kesan jadul yang membawa mata gue menjelajah dunia Victor dkk dengan lebih seksama. Gue seakan-akan hidup di dunia Victor, di mana penduduk New Holland hanya mengidentifikasikan segala sesuatu sebagai hitam dan putih, cepat berprasangka dan merasa insecure kalo ada hal baru yang di luar pemahaman maupun kendali mereka.

Warna hitam-putih film ini di banyak bagian justru menolong gue untuk memahami hidup tokoh-tokoh di dalamnya dan juga merasakan romantisnya sentuhan Burton terhadap sebuah karya animasi.

Trivia: Burton sebelumnya menggarap Frankenweenie dalam bentuk film pendek pada tahun 1984. Butuh waktu 28 tahun sampai akhirnya dia menyajikan Frankenweenie dalam film animasi berdurasi lebih panjang dan sinematografi lebih baik seperti sekarang ini.

Quotes: When you loose someone you love they move into a special place in your heart. (Victor’s Mom)

Rating: Wajib nonton!

*Movie stills from: NY Times Movies, thesevensees.com, reelmovienation.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s