[Review] Pasukan Kapiten

1355729930532828538

Pasukan Kapiten (2012)
Date of watching: 6 December 2012
Cinema: Blok M Square 21
Duration: 81 minutes
Screenplay by: Tumpal Tampubolon
Starring by: Cahya Rizki Saputra, Omar Esteghlal, Andi Bersama, Bintang Panglima, Adrina Putri Syarira, Aryadila Yarosairy
Directed by: Rudi Soedjarwo

Intisari: Yuma (Cahya Rizki Saputra) selalu menjadi sasaran empuk penindasan Omar (Omar Esteghlal) dan kawan-kawannya. Tidak ada seorang pun anak di komplek perumahan Rawasari Timur tempatnya tinggal yang berani melawan Omar. Selain bertubuh lebih tinggi dan lebih besar daripada teman-teman sebayanya, Omar juga kasar dan tidak segan-segan memukul siapapun yang tidak disukainya. Kesal dengan penindasan terus-menerus, Yuma akhirnya memutuskan untuk melawan. Bukan dengan otot, tapi dengan otak. Dia tidak sendiri, tapi mendapat bantuan dari seorang kakek tua veteran perang bernama Sudirman (Andi Bersama) dan gadis kecil tetangga baru di komplek itu (Adrina Putri Syarira). Berhasilkah Yuma melawan Omar?

135573000057113330

###

Dunia film Indonesia kembali disemarakkan oleh kemunculan film-film anak dan ini tentunya nggak lepas dari peran para sineas yang peduli dengan tontonan yang layak bagi anak-anak saat ini. Gue salut dengan kesungguhan Rudy Soedjarwo menggarap film anak di tengah masih menjamurnya film horor sensual di bioskop sekarang. Kesungguhan itu kelihatan banget di film “Pasukan Kapiten” ini.

Film-film anak Indonesia yang gue lihat kebanyakan bercerita tentang persahabatan dan kekeluargaan. Disisipi dengan nilai-nilai luhur yang mengajarkan mereka untuk jujur, rajin, dan patuh pada guru dan orang tua. Tentu itu adalah film-film yang baik dan aman ditonton. Namun, baru kali ini gue ngeliat ada film anak Indonesia yang mengangkat isu kekinian tentang bullying (penindasan).

Ini bukan isu yang baru. Dari jaman gue masih SD dulu juga bullying udah ada dan level kekejamannya, meski nggak separah sekarang, menurut gue pada waktu itu sudah cukup untuk bikin gue males berangkat ke sekolah. Bullying dalam “Pasukan Kapiten” menurut gue sangat menggambarkan masa kini. Soalnya gue pernah ngeliat sendiri anak-anak SD nyiksa temennya secara gerombolan. Dan nyiksanya ga tanggung-tanggung, bukan pake buku atau kotak pensil seperti di jaman gue dulu, tapi pake sapu yang biasa dipake buat piket kelas.

Yah, intinya gitu. Bullying makin lama makin ‘maju’, mengikuti perkembangan jaman dan kedewasaan anak yang dipercepat oleh teknologi dan tayangan televisi dewasa.

Selain isu bullying yang memang mengkhawatirkan, hal lain yang gue suka dari film ini adalah ceritanya yang realistis. Tumpal Tampubolon sang penulis skrip membiarkan tokoh-tokohnya menggunakan bahasa “gue-elu” ,bukan “aku-kamu”, seperti layaknya anak jaman sekarang.

Musik latar yang mengiringi adegan-adegan dalam film ini pun digarap dengan sangat baik oleh Aksan Sjuman dan soundtrack asik karya Pongky Barata pun membungkus “Pasukan Kapiten” dengan keren. Bahkan sangat keren untuk ukuran film anak-anak. Beberapa momen dalam film ini, seperti saat Yuma bersembunyi ketakutan di rumah tua sang veteran perang dan saat menyusun taktik mengerjai Omar berhasil dilukiskan lewat musik yang pas dengan adegan-adegan tersebut.

1355730062139633759

Sayangnya, sub-konflik di film ini kurang digarap dengan baik. Masa lalu dan konflik antara kakek Sudirman dan sang anak (Aryadila Yarosairy) kurang dieksplorasi dengan jelas, sehingga membuat gue sedikit menebak-nebak apa yang terjadi di antara ayah dan anak tersebut. Tetap saja, akting Andi Bersama patut diacungi jempol karena sangat menjiwai perannya sebagai veteran tua yang kesepian namun tegar hidup sebatang kara.

Sementara, Aryadila yang sebelumnya berakting sedikit lebay di film Langit ke-7, di film ini tampil lebih natural dengan emosi yang pas sesuai perannya. Sayang, porsi perannya cuma sedikit. Semoga ke depannya, dia bisa dapat porsi akting yang lebih besar lagi.

Pasukan Kapiten sebenarnya bisa lebih bagus lagi kalau menghadirkan sub-konflik yang menjelaskan perilaku brutal Omar kepada Yuma dan yang lainnya. Memang sih, itu dijelaskan lewat cuilan dialog ayah Omar saat anaknya mengadukan sang Jenderal dan Yuma yang mengerjainya balik. Tapi ya sudah. Tidak lebih dari itu. Penonton bisa saja menangkap bahwa perilaku Omar disebabkan kekerasan dari ayahnya, bisa juga nggak ngeh karena tumpuan perhatiannya terbagi antara celotehan Yuma, teguran sang Ibu, maupun raut wajah sedih sang jenderal karena dimarahi oleh para orang tua.

Secara keseluruhan, Pasukan Kapiten cukup menghibur. Salut buat Rudi yang berhasil menemukan bakat-bakat akting baru seperti Bintang Panglima dan Omar Esteghlal. Kalo gue nggak salah liat, sepertinya mereka adalah hasil penjaringan dari situs Giliran Muke Loe (klik di sini untuk tau lebih lanjut tentang GML) yang juga digagas oleh sang sutradara.

Semoga ke depannya makin banyak lagi film anak Indonesia yang menghibur, memiliki pesan moral yang baik, dan dipromosikan dengan jauh lebih baik lagi agar menuai penonton lebih banyak.

1355730127836994681

13557301771498313821

Trivia: Pasukan Kapiten merupakan film anak-anak ke-tiga garapan Rudi Soedjarwo setelah sebelumnya merilis Garuda di Dadaku dan 5 Elang.

Quotes: Kalau semua orang Indonesia dulu penakut seperti kamu, kita nggak akan pernah merdeka. (Kakek Sudirman)

Rating: Ya, okelah~

*Movie stills taken from moviefreak.yess-online.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s