[Review] Hansel & Gretel: Witch Hunters

Hansel_and_Gretel_Witch_Hunters_

Hansel & Gretel: Witch Hunters (2013)
Date of watching: 23 January 2013
Cinema: Setiabudi One 21
Duration: 88 minutes
Screenplay by: Tommy Wirkola, Dante Harper
Music by: Atli Örvarsson
Casts: Jeremy Renner, Gemma Arterton, Famke Janssen
Directed by: Tommy Wirkola

Intisari: Hansel dan Gretel yang semasa kecilnya ditinggalkan sendirian di hutan oleh orangtua mereka, terperangkap di sebuah rumah kue jahe. Ternyata rumah itu dihuni oleh seorang penyihir hitam yang sengaja menjebak untuk menyantap mereka. Keduanya berusaha keras melawan sang penyihir dan berhasil lolos, bahkan menghukumnya. Masa kecil yang suram itu pun akhirnya mengubah mereka menjadi kakak beradik pemburu penyihir.

HG2

###

~ A personal apology: Oke, mohon maaf karena review film ini rada telat gue bikin karena H&G: Witch Hunters gue tonton sehari sebelom gue berangkat ke Malaysia but event My Selangor Story 2013, jadi ya harap maklum kalo setelahnya gue ga bisa langsung posting review… #alesan #bloggerfilmkarbitan #dududududu~

Gue selalu penasaran dengan film-film Hollywood yang diadaptasi dari dongeng atau cerita anak. Waktu kecil, gue sering membaca buku cerita Disney yang banyak karakter binatangnya dan biasanya happy-ending atau kumpulan kisah Brothers Grimm yang terkenal suram dan penuh misteri. Nonton film adaptasi cerita-cerita itu jadi satu hiburan tersendiri buat gue.

What’s more to see in the movie? Apa aja hal baru atau elemen petualangan yang ditawarkan versi film adaptasi dongeng-dongeng tersebut? Itulah yang mendorong gue untuk nonton Hansel & Gretel: Witch Hunters.

Keren! Itu adalah kesan gue tentang film ini. Bukan hanya dekonstruksi jalan ceritanya yang bikin gue terpesona, tapi juga hampir semua detil yang dipamerkan di dalamnya. Mulai dari kostum yang keren dan sesuai jaman (kecuali untuk kostum Hansel & Gretel yang kayak baru balik dari panggung fashion show ya), setting tempat yang bagus (rumah kue jahenya bikin ngiler!), sampe visualisasi dalam bentuk kartun artistik dengan gambar-gambar ilustrasi khas Eropa di abad 18 gitu.. Keren semuanya!

Semua itu juga ditunjang musik latar yang digarap dengan anggun sekaligus bergemuruh ala Atli Örvarsson. Gimana nggak seru coba? Gue salut sama Wirkola yang dengan imajinatif mendaur ulang salah satu cerita klasik Brothers Grimm ini berubah jadi lebih berani dan kuat.

Hansel & Gretel di film ini digambarkan bukan sebagai protagonis yang lemah dan kebetulan beruntung bisa terbebas dari jeratan nenek sihir yang menangkap mereka seperti di buku-buku cerita yang gue baca sewaktu kecil.

Keduanya disulap oleh Wirkola menjadi sosok-sosok heroik yang membalik trauma menjadi sebuah profesi yang, well, untuk ukuran orang-orang jaman dulu yang hidup dari bertani, berternak, dan berdagang, dipandang sangat keren!

No wonder kalo kedua kakak-beradik itu juga punya penggemar. Seorang fanboy ababil yang menambah bumbu cerita menjadi lebih segar dan humoris. Mereka juga ketambahan satu pengikut lagi, sebuah karakter yang dipoles efek CGI dengan imej yang seharusnya menyeramkan tapi malah bikin gemes dan pengen meluk >.<

Wirkola juga memanfaatkan beberapa hal yang berkaitan dengan kesehatan / dunia medis modern yang disesuaikan dengan setting waktu dan plot film ini, jadinya keliatan lucu dan bikin gue mengangguk-angguk sambil berkata, “Bisa aja nih dipas-pasin sama ceritanya, hahaha~” Naahh, yang belom nonton makin penasaran, kan sama apa yang gue maksud di sini? Hehehe *evil smirk*

Namanya juga film, nggak lepas dari kekurangan. Ada beberapa hal yang mengganggu gue saat nonton film ini, yang paling menonjol sih penggunaan bahasa yang dipakai Hansel & Gretel.

Kata-kata seperti “awesome”, “fuckin’“, “hell”, “shitty“dan masih banyak lainnya meluncur dengan begitu mudahnya dari mulut mereka. Sementara orang-orang di sekitarnya bertutur dalam Bahasa Inggris yang seadanya, nggak pake slang words atau casual expressions seperti yang biasa kita dengar di film-film box office dengan setting waktu modern.

Agak nggak sinkron aja sih jadinya. Seolah-olah Hansel & Gretel diimpor dari jaman yang berbeda dari karakter pendukung lainnya dan didatangkan khusus untuk membasmi penyihir jahat dengan baju yang modis dan bahasa yang gaul. Errmmmm~

Masih ada beberapa kekurangan lainnya dalam film ini yang gue temukan sewaktu nonton. Tapi selain keanehan dalam cara berbahasa Hansel & Gretel di film ini, gue masih bisa menolerir kekurangan-kekurangan itu. Apalagi akting para aktor di film ini sangat menghibur dan membuat gue terhanyut dalam alur ceritanya.

Hansel & Gretel: Witch Hunters emang keren dan layak untuk ditonton. However, ini bukan film untuk semua kalangan umur. Banyaknya konten visual yang mengandung unsur kekerasan dan ada juga yang berbau *ehem!* sensual bikin film ini nggak cocok untuk ditonton anak-anak. So, parents, please bear in mind that this movie is not for the minors!

HG3

HG4

Quotes: One thing this job has taught me over the years: don’t eat the fuckin’ candy! (Hansel)

Trivia: Selain menggarap skrip dan menyutradarai film ini, Wirkola juga muncul sebagai cameo, tepatnya sebagai salah satu anak buah Sheriff Berring.

Rating: Okelah!

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s