[Review] Rectoverso

rectoverso

Rectoverso (2013)
Date of watching: 26 February 2013
Cinema: Blok M Square
Duration: 110 minutes
Based on a novel: Rectoverso by Dee Lestari
Screenplay by: Key Mangunsong, Ve Handojo, Indra Herlambang, Ilya Sigma, Priesnanda Dwi Satria
Casts: As seen on each segment
Directed by: Marcella Zalianty, Cathy Sharon, Rachel Maryam, Olga Lydia, Happy Salma

Rectoverso adalah film omnibus Indonesia kedua yang gue tonton setelah 3SUM tahun ini. Sayang sekali gue belum sempat review 3SUM udah keburu turun layar duluan. Anyway, Rectoverso terdiri dari lima segmen yang semuanya menggambarkan tentang cinta yang tak terungkap.

Kelima segmen tersebut disutradarai oleh lima sineas wanita populer di layar kaca, meskipun peran mereka di balik layar belum terlalu banyak. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia, dan Happy Salma. Seperti apa mereka membawakan lima cerita cinta yang diangkat dari buku karangan Dewi Lestari bertajuk sama itu?

#1 Malaikat juga Tahu – Angel Knows
Director: Marcella Zalianty
Writer: Ve Handojo

R3

Abang (Lukman Sardi), seorang penderita autis yang jatuh cinta pada salah satu anak kost di rumah milik Bunda. Nama gadis itu Leia (Prisia Nasution), satu-satunya yang mengerti Abang dan selalu bersikap baik padanya. Namun, adik Abang yang bernama Hans (Marcell Domits) malah berhasil memikat hati Leia. Ini membuat Bunda khawatir Abang akan terluka.

Semua segmen di film ini sangat menyentuh. Nggak ada hal yang lebih indah dan menyakitkan daripada sebuah cinta yang nggak terucap, kan? Tapi kalau boleh memilih mana yang paling menyentuh dan menyakitkan adalah segmen “Malaikat juga Tahu”. Dari premisnya aja udah keliatan bahwa cinta Abang pada Leia sulit untuk berakhir indah, tapi Marcella Zalianty dan Ve Handojo berhasil menerjemahkan karya Dee Lestari ini menjadi begitu memikat dan mengikat penonton untuk mengetahui akhir ceritanya.

Lukman Sardi sebagai aktor tampil dengan sangat baik sebagai penderita autis. Sifat kekanakan dan keteraturan hidup yang dijalani tokoh Abang sepanjang hidupnya itu membuat gue merasa iba dan sayang. Abang senang, gue ikut senang. Abang sedih, gue lebih sedih lagi. Sangat menyayat hati saat gue harus melihat Abang menangis meraung-raung di pelukan ibunya.

#2 Firasat – Premonition
Director: Rachel Maryam
Writer: Indra Herlambang

R5

Senja (Asmirandah) jatuh cinta pada Panca (Dwi Sasono), ketua Klub Firasat yang memiliki intuisi tajam namun bijaksana menyikapi anugrah yang terkadang mengganggu itu. Perasaannya itu disimpannya dalam-dalam, hingga suatu hari ia mendapatkan sebuah firasat tak enak bahwa seseorang akan meninggal dunia. Ia mencoba memeringatkan Panca tentang firasatnya itu. Berhasilkah dia?

Klub Firasat? Wah, keren nih kayaknya! Jangan-jangan sesama anggota klubnya bisa membaca pikiran dan perasaan satu sama lain. Jadi bisa tau siapa suka sama siapa, hehehe~ Tapi ternyata dugaan gue salah karena firasat yang dikupas dalam segmen ini adalah firasat buruk dan mengarah pada maut.

Lebih disayangkan lagi di sini adalah saking besarnya firasat buruk melanda pikiran Senja, Asmirandah yang memerankannya sampai ‘lupa’ berakting penuh perhatian atau setidaknya menunjukkan tanda-tanda naksir pada Panca walau hanya sedikit. Tokoh Senja lebih terlihat takut pada Panca daripada jatuh cinta. Malah Panca yang kelihatan sekali cintanya…well, who doesn’t love Asmirandah? Untunglah minimnya chemistry antara Senja dan Panca di sini sedikit tertolong oleh visualisasi yang indah, terutama di bagian kostum dan makeup para pemainnya yang alami. Selebihnya? Well, maaf saja, nggak cukup kuat untuk disandingkan dengan segmen lainnya yang lebih bersinar.

#3 Cicak di Dinding – Lizard on the Wall
Director: Cathy Sharon

R2

Taja (Yama Carlos), seorang pelukis introvert bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba atau Sophia Mueller), gadis cantik yang sungguh memikatnya di sebuah bar. Hubungan mereka tak jelas, namun membara. Taja merasa sangat kehilangan ketika Saras meninggalkannya begitu saja. Pertemuan mereka kembali membuat Taja dan Saras menyadari bahwa apa yang mereka jalani sebelumnya bukanlah one night stand belaka.

Cicak di Dinding mengingatkan gue akan sebuah lagu yang udah gue kenal sejak kecil. Cicak cicak di dinding, diam-diam merayap~ Anyway, cicak yang dalam kesehariannya jadi binatang yang antara ada dan tiada serta nggak banyak digubris oleh para penghuni rumah, di segmen ini digambarkan sebagai makhluk hidup yang lucu dan menggemaskan. Setidaknya bagi tokoh Saras yang sampai rela mengukir tato bergambar cicak di pinggul kirinya.

Segmen ini sederhana aja sebetulnya. Tentang dua orang lawan jenis yang saling tertarik dan menikmati cinta semalam mereka. Menjadi menarik ketika keduanya dipertemukan lagi dalam reuni yang nggak mengenakkan dan bikin hati nelangsa. Ya, nelangsa karena ada cinta di antara mereka, tapi udah nggak bisa disambung lagi karena udah ada tembok pembatas yang memisahkan. Gue sangat suka dengan cara tokoh Taja membalas sakit hatinya ditinggal oleh Saras dengan begitu anggun dan bernilai seni. Sebuah ‘kado’ yang manis sekaligus pahit bangetttt. Nggak kebayang kalo gue berada di posisi Saras, hehehe~

Cathy Sharon di luar dugaan gue ternyata bisa menyutradarai segmen ini dengan memikat. Dia berhasil mengarahkan para pemainnya untuk terlihat menggebu-gebu melampiaskan asmara semalam mereka. Di sisi lain, gue agak terganggu dengan akting Sophia, yang walaupun memikat, kentara banget berusaha keras menutupi dua buah jerawat besar di dagunya dengan gerakan tangan yang sama dan berulang-ulang. Hmmm…

#4 Curhat buat Sahabat – Stories for my Best Friend
Director: Olga Lydia
Writers: Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

R4

Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo) sudah lama bersahabat. Saking akrabnya, Reggie sampai hafal semua mantan pacar Amanda dan dia pun tahu di mana gadis cantik itu menyimpan kunci rumahnya. Sebuah curahan hati mengenai kegagalan kisah-kisah cintanya membuat Amanda menyadari bahwa cinta sejati ternyata selalu berada di sampingnya selama ini.

Acha belakangan ini banyak dipuji karena kemampuan aktingnya yang berkembang pesat. Terutama setelah dia berhasil membawa pulang Piala Citra untuk perannya di Test Pack arahan Monty Tiwa. Gue bisa ngeliat kesungguhan dia berakting di segmen ini juga.

Meskipun terbilang singkat, penampilan Acha sebagai sosok Amanda yang cantik dan ceria namun sering patah hati itu terbilang meyakinkan. Begitu juga dengan Indra Birowo sebagai Reggie, sobatnya yang pengertian dan selalu ada kapan pun bahkan di kala dia patah hati dan jatuh sakit. Keduanya berakting dengan baik dan maksimal, tapi kenapa ya kok gue tetap nggak bisa ngerasain ada chemistry di antara mereka berdua? Hmm….

#5 Hanya Isyarat – It’s Only a Sign
Director: Happy Salma
Writer: Key Mangunsong

R6

Al (Amanda Soekasah) akhirnya bertemu dengan para sahabat backpacker yang selama ini hanya dikenalnya lewat sebuah milis. Diam-diam Al mengagumi salah seorang di antara mereka, yaitu Raga (Hamish Daud) yang hanya bisa dikaguminya dari jauh sambil melukis sosoknya lewat punggungnya saja. Sebuah tantangan unik dari sahabatnya membuat Al menceritakan kisah sedih dirinya yang hanya mampu mencintai dari jauh. Tentu saja dia tak mampu mengungkapkan siapa yang dimaksudnya. Hanya sebuah isyarat sambil mencari tahu warna mata Raga sudah lebih dari cukup baginya.

Traveling emang bisa membangkitkan suasana romantis dan puitis. Juga bisa menghanyutkan seseorang dalam lamunan akan cintanya yang nggak mungkin dimiliki. Itulah yang tergambar dari sorot mata seorang Al yang diperankan dengan baik oleh Amanda Soekasah di segmen ini.

Meskipun suaranya terlalu berat dan sempet bikin gue syok mempertanyakan apakah ini suara cewek atau cowok, penjiwaannya tentang cinta yang hanya diucapkan melalui isyarat bener-bener dapet feelnya. Gue seolah ikutan jatuh cinta dengan sosok bernama Raga hanya dengan mendengarkan monolog Al.

Yah berhubung cuma dinyatakan lewat isyarat, orang lain belum tentu menangkap maknanya. Walaupun udah jelas-jelas Al ngasih #kode banget pas lagi sesi cerita sedih di pantai. Ahhh, sayang sekali! Gue hanya bisa bersimpati pada Al sambil bergumam, “Yaudahlah, tak ada Raga, temannya pun jadi” *sambil lirik Fauzi Baadillah yang ngomong-ngomong keliatan kocak dan seksi*.

*dubbing* Asmirandah: Kok firasat gue jadi nggak enak ya pas lo megang tangan gue? / Dwi Sasono: Ah, itu cuma firasat Dek Andah sajaaa...

*dubbing* Asmirandah: Kok firasat gue jadi nggak enak ya pas lo megang tangan gue? / Dwi Sasono: Ah, itu cuma firasat Dek Andah sajaaa…

Menonton Rectoverso memberikan gue sebuah pengertian baru tentang cinta. Bahwa di luar sana masih banyak cinta tak terucap yang memakan korban. Ya senang, sedih, dan rasa takut kehilangan bercampur jadi satu, tapi di sisi lain terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan karena khawatir semuanya berubah. Aahh, cinta…

Film ini penting banget buat ditonton sama siapa pun yang punya gebetan, TTM-an, HTS-an, ato selingkuhan (?) yang dicintai tapi apa daya nggak bisa mengungkapkan perasaan dengan gamblangnya karena satu atau lain hal.

Overall, bagi gue, Rectoverso adalah sebuah harapan baru bagi perfilman Indonesia, baik dari segi omnibus maupun genre romantis. Semoga ke depannya makin banyak film lokal yang dirajut dengan indah dan menyentuh seperti Rectoverso.

*dubbing* Indra: Acha sayang, patah hati emang sakit banget... tapi kebanyakan minum bisa bikin perut buncit, lho~ / Acha: Gengges deh lo!

*dubbing* Indra: Acha sayang, patah hati emang sakit banget… tapi kebanyakan minum bisa bikin perut buncit, lho~ / Acha: Gengges deh lo!

*dubbing* Yama: Buset, cantik-cantik kok tidurnya ngorok? Gue gambar aahh~ / Sophia: zzzzzzzzzzzzzz......

*dubbing* Yama: Buset, cantik-cantik kok tidurnya ngorok? Gue gambar aahh~ / Sophia: zzzzzzzzzzzzzz……

Trivia: Semua sineas wanita tersebut di atas belum pernah duduk sebagai sutradara film layar lebar.

Quotes: Seratus sempurna. Kamu satu, lebih sempurna. (Abang, Malaikat juga Tahu)

Rating: Wajib nonton bareng pacar, gebetan, TTM-an, HTS-an, selingkuhan~

4 Comments

  1. wewww intaan.. beruntungnya aku kenal kamu, yang selalu update pilem xixixi
    biasanya ade kos gw yang cuma bilang.. “aku habis nonton mbak.. waa bagusss… pokoknya buaagguusss.. nangiss termehek-mehek..ngakakk..and bla bla”
    sampai kadang lupa mau nonton film apa..

    yeayy tulisan yang ini saya suka! cuma yg firasat dan yg curhat buat sahabat itu ada something missing.. ga ngerti dimana🙂 tapi kamu berhasil membuat jadi pingin nonton film ini😀 thank you gal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s