[Review] Broken City

Broken_City_Poster

Broken City (2013)
Date of watching: 7 March 2013
Cinema: Semanggi 21
Duration: 108 minutes
Screenplay by: Brian Tucker
Casts: Mark Wahlberg, Russel Crowe, Catherine Zeta-Jones
Directed by: Allan Hughes

Intisari: Billy Taggart (Mark Wahlberg) adalah seorang mantan polisi NYPD yang beralih profesi menjadi detektif swasta. Ia mendapat tugas dari Walikota Nicholas Hostetler (Russel Crowe) untuk menyelidiki dengan siapa istrinya, Cathleen Hostetler (Caherine Zeta-Jones), berselingkuh. Imbalan yang besar untuk tugas yang mudah itu pun disanggupi oleh Taggart. Lagipula, dia berutang budi pada Hostetler yang telah membantunya bebas dari sebuah kesalahan di masa lalu, jadi ini saatnya untuk membalas kebaikan sang walikota. Sayangnya, Taggart terlambat menyadari bahwa tugas ini bukan sekedar penyelidikan perselingkuhan biasa ketika ada nyawa yang melayang.

BC5

###

Gue sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam benak Mark Wahlberg waktu dia memutuskan untuk mengambil peran di film ini. Oh, hal yang sama berlaku juga untuk Russel Crowe dan Catherine Zeta-Jones. Guys, what the hell was in your mind? Satu aktor bagus kecemplung bermain dalam film yang buruk bukanlah hal yang mengejutkan. Tapi tiga aktor sekaligus? Ini sebuah tragedi.

Tanpa perlu merasa tega atau ga punya hati, gue dengan sukarela bilang bahwa Broken City adalah film jelek yang menyia-nyiakan kualitas akting para bintang besar yang terlibat di dalamnya. Kenapa begitu? Ada beberapa hal yang membuat gue mengambil kesimpulan seperti itu, di antaranya, dan yang paling fatal, adalah skripnya yang mengecewakan.

Di setengah jam pertama, film ini cukup membuat gue berekspektasi banyak. Seorang polisi New York yang tampilannya kharismatik macam Mark Wahlberg membuka harapan bahwa akan ada sesuatu yang mengejutkan di film ini. Apalagi saat dia ‘menyelewengkan’ kewenangannya sebagai polisi untuk menghukum seorang bajingan tanpa tedeng aling-aling. Out of emotion? Hmm, menarik. Pasti ada sesuatu di balik ini.

Proses hukum berjalan dan kemudian dia bisa bebas karena bantuan petinggi hukum dan juga sang walikota. The law is blind and equal before anyone, tentunya bukan pesan moral dalam film ini. Dan ini membuat gue semakin penasaran akan dibawa ke mana film ini. Sebab utang budi yang didapat Taggart ini nggak mungkin nggak dibayar dong suatu hari nanti? Bener aja, dia pun dapet tugas yang kelihatannya mudah tapi cukup berbahaya dari sang walikota.

BC3

Menyelidiki perkara perselingkuhan memang terkesan sepele. Tapi nggak sesimpel itu kalo yang diselidiki adalah istri walikota dan waktu penyelidikannya dilakukan di masa-masa pemilihan walikota yang baru. Sebagai incumbent, Hostetler tentunya nggak puas dan nggak rela kalo dia harus menjabat selama satu periode aja dong. Nah, kalo Taggart nggak hati-hati, isu perselingkuhan istri walikota yang diselidikinya ini bisa jadi santapan empuk bagi rival politik Hostetler. That’s why it’s a bit dangerous.

Oke sampe sini, semuanya kedengaran meyakinkan dan punya potensi untuk menyita perhatian hingga akhir film. Namun semuanya itu pudar saat gue melihat satu demi satu kelemahan Taggart sebagai seorang detektif yang kalau harus gue simpulkan dalam tiga kata menjadi: Careless, Clueless, and Cheap!

Gue nggak ngerti dengan pengembangan karakter utama yang ditulis oleh Brian Tucker di film ini. Tokoh utama bukan berarti harus sempurna dan tanpa flaw, tapi yah nggak sebanyak itu juga kali. This is not a comedy, anyway. Kenapa harus membuat Taggart yang berprofesi sebagai detektif (dan dulunya polisi NYPD) kelihatan luar biasa bodoh dan emosional begitu sih?

Sebagai contoh nih ya, ada satu adegan di mana Taggart menyelidiki siapa pria selingkuhan Mrs. Hostetler. Dia sampai harus jauh-jauh ke tempat keduanya bertemu di luar kota. Dan tebak apa yang Taggart lakukan? Mengendap-endap mengambil foto dari kejauhan, tapi nggak satupun fotonya yang cukup mengindikasikan bahwa dua-duanya beneran ada affair.

Kebodohan kedua dilanjutkan dengan meninggalkan TKP begitu saja dan dengan cerobohnya nggak melakukan penyelidikan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai benar-benar terbukti bahwa Mrs. Hostetler selingkuh dengan pria yang ternyata mengancam kelanggengan karir suaminya sebagai walikota itu. Kebodohan ketiga, Taggart yang emosional dan mabuk sehabis bertengkar dengan pacarnya yang seorang aktris film kelas dua (Even until the end of the movie, I never really understand why a guy like Taggart even considers a relationship with such girl), malah dengan terbuka mendatangi TKP tempat pembunuhan sang pria yang menjadi selingkuhan Mrs. Hostetler. Why the hell did you do that, man?

Masih banyak kebodohan lain yang dilakukan oleh Taggart yang gue males bahasnya di review ini. Stupidity knows no boundaries dan beberapa kali gue memutuskan untuk memaafkan Taggart atas kecerobohan yang dilakukannya di film ini. Yang nggak bisa gue maafkan adalah sifat Taggart yang plin plan. Ke kanan oke, ke kiri oke. Bukannya seorang detektif (apalagi yang dulunya mantan polisi) bersikap lebih awas dan nggak percaya siapapun, bahkan kliennya sendiri?

Bukankah untuk menyelidiki suatu kasus, detektif harus bersikap skeptis dan percaya pada bukti bukan pada omongan orang lain? Nggak peduli seberapa pentingnya orang tersebut, tapi dia harus bersikap lebih cerdas dan mampu melihat the bigger picture, the grand design behind it all. Taggart sama sekali nggak menunjukkan sifat-sifat itu dan ini membuat gue kesal. I mean, film detektif-detektifan macam Ace Ventura: Pet Detective (1994) atau The Pink Panther (2006) malah jauh lebih menghibur and less annoying dibandingkan Broken City.

Ada sebuah adegan di film ini di mana Mrs. Hostetler berkata pada Taggart bahwa dia nggak menyangka Taggart bisa serendah dan semurahan itu sebagai seorang detektif. I couldn’t agree more! Yang lebih mengecewakan dari skrip lemah garapan Brian Tucker adalah Wahlberg setuju untuk memerankan Taggart, dan bahkan ikut memproduserinya! I don’t even like the character’s name, ugh!

Selain peran Wahlberg sebagai Taggart, tokoh lainnya yang gue benci adalah sosok pejabat aparat Captain Carl Fairbanks yang diperankan oleh Jeffrey Wright. Sama sekali nggak ada kharismanya sebagai kapten polisi NYPD yang bahkan juga bermuka dua. Sama-sama murahan!

Satu-satunya yang menghibur dari film ini adalah penampilan berkelas Russel Crowe sebagai walikota yang kharismatik dan memikat cara bicaranya di luar, tapi berbisa di dalamnya. Akting jempolan di tengah minimnya tense dalam film ini.

BC2

BC1

Trivia: Awalnya peran Billy Taggart ditawarkan Wahlberg pada Michael Fassbender. Namun aktor berdarah Jerman – Irlandia itu menolak dan akhirnya Wahlberg, yang juga salah satu produser film ini, memutuskan untuk mengambil peran tersebut. Well, Whalberg, now you know why Fassbender declined this role, right?

Quotes: There’s never a wrong time to stand up to the bullies. Even if they’re power bullies. Especially, if they’re powerful bullies. (Cathleen Hostetler)

Rating: Skip aja daripada emosi!

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s