[Review] Hasduk Berpola

HB

Hasduk Berpola (2013)
Date of watching: 19 March 2013
Cinema: Planet Hollywood XXI
Duration: 99 minutes
Screenplay by: Bagas D. Bawono, Kirana Kejora
Casts: Bangkit Prasetyo, Fay Nabila, Idris Sardi, Iga Mawarni, Petra Sihombing, Calvin Jeremy
Directed by: Harris Nizam

Intisari: Budi (Bangkit Prasetyo) ingin ikut pramuka, tapi tak punya cukup uang untuk melengkapi atribut seragamnya, yaitu baret dan hasduk merah putih. Ibunya (Iga Mawarni) hanya bekerja di sebuah warung makan sederhana untuk menghidupinya dan juga Bening sang adik (Fay Nabila) dan sang kakek (Idris Sardi). Jambore nasional makin dekat, tapi Budi belum juga sanggup melengkapi atribut seragamnya hingga akhirnya Budi memutuskan untuk memakai sebuah hasduk berpola. Akankah para kakak pembina memarahinya? Dan bisakah Budi tetap mengikuti jambore nasional dengan hasduk yang unik itu tanpa mendiskualifikasi grupnya?

HB_11

###

Hasduk Berpola dimulai dengan sebuah penceritaan yang dikemas sederhana. Kalo lo udah baca review trailer yang gue buat beberapa waktu lalu, sedikit banyak lo akan tahu tentang tokoh bernama Budi dan latar belakangnya yang hidup susah di kota Bojonegoro. Budi, anak SD yang kira-kira berusia 11-12 tahun, semangat untuk ikutan pramuka karena nggak mau kalah saing dengan Kemal, anak cowok cakep dari keluarga berada yang disukai banyak teman, termasuk Arum, gadis cantik di kelasnya. Budi pun mendaftarkan diri ikut pramuka supaya bisa menunjukkan bahwa dirinya juga tangkas, dan pastinya bisa dekat-dekat Arum juga.

Sayangnya, ikutan pramuka nggak cukup modal semangat doang. Budi harus punya atribut pelengkap seragamnya, seperti baret dan hasduk merah putih. Jelas saja Budi bingung. Uang dari mana buat membeli dua atribut itu? Untuk makan sehari-hari aja udah susah. Maklumlah, ayahnya sudah tiada dan ibunya (Iga Mawarni) hanya bekerja di warung makan sederhana dengan penghasilan tak seberapa. Belum lagi kakeknya, Masnun (Idris Sardi), yang cuma veteran pejuang, dengan tubuhnya yang tua renta udah pasti nggak bisa menyumbang pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mau minta uang dari Ibunya, nggak mungkin. Bukan hanya Budi aja yang butuh uang, sebab adiknya si Bening (Fay Nabila) juga harus dibekali untuk sekolah. Jadilah Budi dengan sekuat tenaga bekerja mencari uang supaya atribut seragam pramukanya bisa lengkap sebelum dia mengikuti persami dan jambore nasional.

Potret kemiskinan keluarga Budi digambarkan sedemikian rupa dengan sangat meyakinkan. Beberapa properti di rumahnya, mulai dari lemari dengan kaca retak di bagian pintunya, dipan kayu dengan kasur tipis beralas seprai motif kembang-kembang jadul, sampai meja makan reyot di ruang keluarga membuat siapapun yang nonton ini prihatin. Belum lagi menu makanan sehari-hari yang itu-itu saja, kuah rawon thok yang dibawa sang Ibu dari warung makan tempatnya bekerja. Terkadang ada daging di dalamnya, tapi itu pun kalau beruntung.

Sejujurnya, menu makanan sama setiap hari ini mengingatkan gue akan Cita-citaku Setinggi Tanah garapan Eugene Panji. Hanya saja bedanya, Agus (nama anak yang jadi tokoh utama di CCST) dan keluarganya langganan makan tahu bacem, sebab bapaknya bekerja di pabrik tahu dan menu tersebut adalah masakan andalan ibunya. Baik Agus maupun Budi, sama-sama bosan dengan menu yang itu-itu saja. Nggak heran, pertumbuhan badan mereka kurang sebaik anak-anak seusianya, hehehe~

Bicara penampilan fisik, tubuh kurus Bangkit Prasetyo sangat pas dengan imej Budi si anak kurang gizi. Begitu juga dengan Fay Nabila yang berperan sebagai Bening dan Idris Sardi sang kakek. Ketiganya kelihatan kurus dan wajahnya seperti terbiasa menahan lapar. Sangat meyakinkan. Sayangnya, Iga Mawarni yang jadi sang ibu, malah bertubuh gemuk dan segar. Selain makeupnya yang agak pucat dan baju-bajunya yang kusam, gue nggak melihat satupun tanda kemiskinan pada diri Iga Mawarni sebagai seorang Ibu yang nggak punya uang. Mungkin bila Iga berdiet keras dan membuat dirinya lebih kurus lagi, dia akan tampil lebih meyakinkan.

HB_5

Hal lain berkaitan fisik yang agak kurang mengena di hati gue adalah penghitaman kulit Fay Nabila sebagai Bening. Okelah, tujuannya untuk menyamakan look Bening dan Budi sebagai saudara kandung. Tapi entah kenapa di beberapa adegan, gue melihat hitamnya nggak merata. Kadang mukanya Bening lebih hitam daripada tangannya. Kali lainnya, badannya Bening lebih gelap dari mukanya. Gue sampai bertanya-tanya, ini yang makeup siapa sih? Kayaknya nggak perlu juga menghitamkan Fay sampe segitunya, wong Ibunya aja nggak kelihatan hitam kucel kok.

Bicara tentang akting, gue salut dengan Bangkit Prasetyo sebagai pendatang baru di layar lebar nasional. Bersama teman-temannya yang juga wajah-wajah baru dari Bojonegoro, Bangkit kelihatan sangat meyakinkan dalam memainkan perannya sebagai seorang anak dari kalangan nggak mampu. Celotehan-celotehan khas dalam Bahasa Jawa yang dilontarkannya bersama teman-teman karibnya sangat menghibur dan bahkan sanggup membuat gue tertawa di beberapa adegan. Padahal mereka nggak lagi guyon, tapi bahkan di adegan-adegan adu mulut saja mereka bisa membuat gue tertawa sekaligus merasa sedih. Jawa Timur sepertinya menyimpan banyak bakat baru yang menunggu untuk ditemukan seperti anak-anak ini.

Selain para pendatang baru itu, Fay Nabila, Iga Mawarni, dan Idris Sardi juga berakting dengan baik. Pas sesuai porsinya, nggak kurang dan nggak lebay. Hanya saja, gue sama sekali nggak melihat interaksi antara Idris Sardi sebagai kakek dengan Fay sebagai cucunya. Kakek kelihatannya terlalu sibuk memerhatikan cucu laki-lakinya yang beranjak puber dan lupa bahwa dia juga punya cucu perempuan yang juga perlu diperhatikan. Begitu pun dengan sang Ibu yang tampak berat sebelah kasih sayangnya pada anak perempuannya dan lupa menatar anak laki-lakinya yang sudah mulai nakal dan butuh bimbingan supaya menjadi lebih baik lagi. Ah, tapi kan ibunya sibuk bekerja di warung. Sementara sang kakek menambah penghasilan dengan membuka bengkel. Merawat anak pastilah bukan prioritas utama mereka, begitu pikir gue membela kekurangharmonisan dalam keluarga kecil yang papa ini.

Para pemeran kakak pembina pramuka yang diperankan oleh Petra Sihombing dan Calvin Jeremy nggak banyak memberi kesan di film ini. Selain karena skrip yang juga membatasi pengembangan karakter mereka, kedua cowok ini lebih sebagai pemanis untuk memikat penonton gadis remaja. Meskipun begitu, sebenarnya ada satu scene dalam film ini yang menonjolkan peran Petra sebagai kakak pembina pramuka yang digadang-gadang cerdas dan berwibawa oleh Budi dan kawan-kawannya.

Sayangnya, Petra mendapat dialog yang justru meruntuhkan kesan itu. Sosok Kak Indra yang dibawakan oleh Petra di film ini terlalu dangkal menerjemahkan makna nasionalisme, sehingga membuat gue gemas dan sedikit kesal. Tapi gue nggak bisa menyalahkan Petra sepenuhnya, karena memang skrip garapan Bagas D. Bawono dan Kirana Kejora sangat membatasi ruang geraknya. Bila Petra (dan juga Calvin) ingin serius mendalami akting, di lain kesempatan dia harus bisa lebih pandai mengemas dialognya dengan improvisasi supaya nggak kelihatan kaku seperti orang yang sedang menghafal. Kedua kakak pembina pramuka yang cewek menurut gue malah kelihatan lebih baik aktingnya. Meskipun gue bertanya-tanya keheranan dalam hati, di salon mana karakter Kak Sita merapikan alisnya sedemikian rupa?

Kak Sita, itu alisnya dirapiin di salon mana ya?

Kak Sita, itu alisnya dirapiin di salon mana ya?

Bicara soal skrip, sebenarnya cukup bisa diterima dengan baik. Meskipun di beberapa bagian, dialognya terasa kaku seperti dikutip dari buku-buku teks pelajaran Bahasa Indonesia. Terutama di adegan-adegan yang melibatkan para kakak pembina pramuka. Selebihnya, gue sangat menikmati film ini karena memang menghibur dan menyentil bagi siapapun yang kurang mensyukuri hidup. Film ini bisa dibilang salah satu film anak yang wajib ditonton karena baik pesan moral dan aspek hiburan di dalamnya tergolong memuaskan gue sebagai penonton. Sayangnya, ending film ini kurang digarap dengan lebih meyakinkan dan terkesan mengambang.

Harris Nizam sudah berusaha sebaik mungkin mengolah skrip film ini menjadi lebih hidup dan berwarna dengan segala bumbu-bumbu di dalamnya. Hanya saja, beberapa bagian di akhir film sangat kurang nyaman untuk dicerna oleh nalar gue. Boleh-boleh saja menunjukkan patriotisme dan nasionalisme dalam adegan yang klise. Apapun yang klise dan happy ending itu pasti memuaskan hati para penonton kebanyakan. Hanya saja, penonton harus dituntun untuk merasakan diri mereka sebagai bagian dari akhir film yang bahagia itu. Bukan sekadar menonton atau mengobservasi beberapa hal yang dilihat di layar lebar.

Above all, Hasduk Berpola adalah salah satu film Indonesia yang layak diapresiasi. Nggak banyak film anak yang digarap dengan serius tanpa terkesan menggurui penontonnya. Selain itu, product placement yang muncul di film ini digarap dengan sangat mulus dan nyaris nggak seperti iklan. Harris Nizam bermain dengan lebih cantik dalam mengawinkan sponsor dengan alur cerita. Faozan Rizal, sutradara Habibie Ainun, harus berguru ilmu padanya untuk hal yang satu ini. Jadi, siapapun yang mau #KamisKeBioskop atau berencana nonton di bioskop pekan ini, Hasduk Berpola, meskipun judulnya kurang greget, layak dimasukkan dalam agenda nonton kalian.

HB_10

HB_7

Trivia: Hasduk Berpola berawal dari sebuah cerpen karangan Bagas D. Bawono yang berisi tentang kritik terhadap pemerintah. Butuh waktu tiga tahun untuk menggarap cerpen tersebut menjadi sebuah skrip film yang utuh sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar.

Quotes: ~

Rating: Okelah!

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s