[Review] Argo

Argo2012Poster

Argo (2012)
Date of watching: 22 March 2013
Cinema: Djakarta Theater XXI
Duration: 120 minutes
Screenplay by: Chris Terrio
Casts: Ben Affleck, Bryan Cranston, Alan Arkin, John Goodman
Directed by: Ben Affleck

Intisari: Enam diplomat terjebak di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran, Iran saat terjadi Revolusi Iran di tahun 1979. Setelah menghancurkan dokumen-dokumen diplomatik yang ada di kantor, mereka menyelinap keluar dan berhasil melarikan diri sebelum disandera oleh tentara-tentara revolusi yang mengamankan semua orang berkewarganegaraan Amerika Serikat. Agen CIA Tony Mendez (Ben Affleck) ditugaskan membawa para diplomat tersebut keluar dari Iran sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Sebuah misi penyelamatan yang unik pun dibuat oleh Mendez. Dia akan membawa mereka keluar dengan identitas samaran sebagai kru film dari Kanada. Namun, rencana yang dibuat serapi mungkin pun pasti menemukan hambatan. Bagaimana cara Mendez dan keenam diplomat tersebut meloloskan diri dari tentara revolusi yang berjaga ketat di bandara?

Ar6

###

Gue lupa kapan terakhir kali gue nonton film dengan perasaan deg-degan nggak karuan sepanjang film diputer. Argo adalah film teranyar yang gue tonton dengan perasaan semacam ini. Meskipun gue tau endingnya bakalan safe and sound, tetap aja gue nggak berhenti memekik kecil saat menonton adegan-adegan pencarian para diplomat yang dilakukan oleh tentara-tentara Iran itu. Puncak paling menegangkan barangkali adalah adegan waktu mereka berada di bandara. Wuihhh, itu deg-degannya bukan main. Rasanya seolah-olah gue adalah salah satu dari enam diplomat Iran yang ketakutan dan menerka-nerka apakah hari itu akan mati atau nggak.

Penayangan Argo di Indonesia emang telat banget. Udah keburu menang Oscar duluan, baru diputer di bioskop. Untung aja gue menanti dengan sabar buat nonton film ini dan nggak tergoda buat nonton bajakannya. It’s worth the long wait, soalnya pengalaman nonton di bioskop selain lebih menyenangkan juga ternyata lebih kuat membingkai peristiwa-peristiwa yang dijalin jadi satu dalam Argo.

Argo adalah film berdasarkan kisah nyata. Tentang misi penyelamatan para diplomat Iran saat terjadi revolusi di sana dan hubungan antara Iran dan Amerika sedang panas-panasnya waktu itu. Gimana nggak panas? Amerika menampung mantan pemimpin Iran yang dinilai korup dan membuat Iran terbelakang, yaitu M. Reza Pahlavi. Saat itu sosok Pahlavi merupakan buron yang dicari-cari seantero Iran untuk dihakimi massa. Makanya siapapun yang berkewarganegaraan Amerika di Iran jelas bisa jadi sasaran amuk massa karena negara adidaya itu menolak menyerahkan buronan politik negara.

Ar1

Kebayang kan gimana rasanya jadi salah satu diplomat AS seperti yang diceritakan dalam film ini? Ngeri pastinya. Untung aja mereka dapet perlindungan di kediaman Duta Besar Kanada waktu itu, Kenneth D. Taylor. Tapi yang namanya persembunyian nggak mungkin bertahan lama karena suatu waktu pasti ketahuan juga. Di tengah masa desperate kayak gitu, untung aja Tony Mendez datang membawa harapan. Meskipun rencananya terdengar konyol dan berbahaya, tapi nggak ada jalan lain yang lebih masuk akal untuk keluar dari negara yang lagi bergejolak itu.

Argo bener-bener memikat gue. Bukan hanya dari cerita dan alurnya yang dijahit rapi banget, tapi juga dari setting waktu, tempat, dan kostumnya yang dikerjakan sedetil mungkin. Perhatiin deh kostum para pemainnya; Mendez dengan kemeja yang dua kancing teratasnya sengaja dibiarkan terbuka dan celana potongan pipa lebarnya itu bener-bener mewakili gaya pada masa itu. Belum lagi pesawat telepon yang ada di kantor studio film di Hollywood yang modelnya jadul banget dan mobil-mobil yang dipakai para karakternya.

Dan nggak berhenti sampai di situ aja, atmosfer filmnya terasa hidup karena gambar film ini sepertinya menggunakan teknik khusus yang menimbulkan efek jadul. Gue nggak ngerti gimana teknisnya, yang jelas nonton Argo nggak seperti lagi nonton film rilisan tahun 2012, tapi berasa kayak nonton film tahun 70-an akhir atau 80-an awal. It was so impressive! Argo really got my attention for the whole 120 minutes.

Walopun gue sangat menikmati film garapan Affleck ini, harus gue akui bahwa dia keren banget sebagai sutradara, tapi sebagai aktor… uhmmm.. biasa aja, hehehe~ Peran Affleck di film ini sangat signifikan. Sebagai Tony Mendez, porsi kemunculannya tentu aja di atas rata-rata aktor lain di film ini. Meski begitu nggak keliatan sesuatu apapun yang menonjol dari aktingnya. Suami Jennifer Garner ini lebih banyak diam dan terlihat berpikir ketimbang berakting, hehehe~ Tapi anehnya akting yang kurang menonjol itu malah nggak mengganggu sama sekali. Ada bagusnya juga Affleck brewokan di Argo. Ini sedikit menolong aktingnya yang biasa aja jadi terlihat lebih serius dan misterius.

Above all, gue sangat suka menonton Argo. Ini adalah salah satu film terbaik seharusnya tahun lalu ya, tapi karena gue baru nonton tahun ini yah… gitu deh~. Ini juga bikin gue menantikan film-film garapan Affleck berikutnya setelah dia sukses menyutradarai Gone Baby Gone (2007), The Town (2010), dan tentunya Argo (2012).

Ohya, kalo nonton film ini, jangan buru-buru keluar dari teater setelah filmnya selesai ya. Ada kolase foto para tokoh asli dan pemeran film ini yang dirangkai dengan apik. Juga ada rekaman suara mantan Presiden Jimmy Carter tentang krisis di Iran dan misi penyelamatan para diplomat itu.

ARGO

Ar2

Trivia: Para anggota keluarga Tony Mendez yang asli dilibatkan dalam syuting film Argo. Mereka berperan sebagai penumpang bus yang menuju ke bandara.

Quotes: If we wanted applause, we would have joined the circus. (Jack O’Donnell)

Rating: A must watch!

2 Comments

  1. Saya tertarik nonton Argo karena premisnya cukup menjanjikan dan kenyataan bahwa film ini meraih Oscar untuk kategori film terbaik tahun ini (saya nonton argo baru beberapa minggu yang lalu). Ekspektasi saya jelas tinggi sekali. Sayangnya begitu nonton, kok rasanya kurang greget ya. Ada beberapa adegan yang sedikit menegangkan, yaitu di bagian kahir, tapi Overall film ini lebih ke politik daripada thrilller. Ya, film ini kayaknya pencitraan CIA habis-habisan. Kabarnya Iran punya versi berbeda tentang peristiwa sejarah itu. Dan rencananya membuat film tandingan.

    Secara thriller, agak overatted menurut saya. Untuk sebuah film bertema pelarian, Argo masih kalah menegangkan dengan film “The Next Three Days”. Mungkin karena saya nonton film tersebut duluan jadinya saya merasa Argo jadi kurang wah. Khususnya pas scene di pasar tradisional di Iran, kok rasanya nanggung. IMHO. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s