[Review] Carrie

Carrie_Domestic_One-sheet

Carrie (2013)
Date of watching: 2 November 2013
Cinema: Blitz Megaplex Grand Indonesia
Duration: 99 minutes
Screenplay by: Laurence D. Cohen, Roberto Aguirre Sacasa
Based on: Carrie by Stephen King
Casts: Chloe Grace Moretz, Julianne Moore, Judy Greer, Portia Doubleday
Directed by: Kimberly Peirce

Intisari: Terlahir sebagai gadis remaja yang dibesarkan oleh seorang ibu yang aneh dan sangat religius, Carrie merasa dirinya terasing di sekolah. Haid pertama membuatnya bingung dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Saat ia mengira hidupnya terpuruk, Carrie mendapati bahwa dia memiliki kekuatan telekinesis; kemampuan menggerakkan benda-benda dengan kekuatan pikiran. Hidup Carrie sesudahnya akan berubah total dan semua orang di kota tempatnya tinggal akan mengetahui namanya.

car7

###

Dengan embel-embel nama Stephen King sebagai penulis novel yang melandasi film ini, jelas nonton Carrie jadi salah satu agenda wajib saat gue layover ke Jakarta. Trailer film Carrie harus gue akui bikin penasaran untuk nonton. Siapa sih yang nggak pengen ngeliat kerusuhan di prom? Adegan berdarah-darah yang ada di film ini pun makin menambah rasa ingin tahu gue untuk ngeliat apa yang dilakuin Carrie sampai ada hujan darah segala~

Menonton film tentang seorang gadis remaja yang kebingungan saat mendapat haid pertamanya di sekolah sekaligus menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan telekinesis mungkin terasa ganjil. Seperti nggak ada hubungan sama sekali di antara keduanya. Tapi kalau dipikir lebih jauh, sebenarnya cukup beralasan juga King menggabungkan kedua hal ini dalam diri tokoh utama novelnya. Nggak ada yang lebih menakutkan daripada emosi seorang wanita yang tengah mengalami menstruasi, apalagi kalau dia kebetulan juga punya kemampuan telekinesis. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kalau kekuatan itu digunakan di saat yang kurang tepat, misalnya saat Carrie sedih, marah, atau mengamuk. And that’s exactly what happened in the movie!

Gue nggak akan membahas lebih jauh tentang penokohan Carrie berdasarkan novel King karena gue memang belum pernah baca karya King yang pertama kali diterbitkan tahun 1974 tersebut. Namun sosok Carrie yang diperankan oleh Chloë Grace Moretz di film garapan Kimberly Peirce ini terlihat cukup menarik. Menarik karena sepertinya kurang sesuai dengan gambaran bahan bully anak-anak sekolahan di Amerika Serikat. Ya memang dia pakai baju-baju tertutup dan sopan menurut ibunya, Margaret White (Julianne Moore) yang aneh dan super religius.

Dengan setting modern dalam film ini, baju-baju Carrie memang rentan jadi bahan ledekan teman-teman sekolahnya yang gaul dan senang pamer kulit. Meski begitu, wajah Moretz yang cantik tetap aja kurang mendukung penampilannya sebagai objek siksaan masa SMA. Bukannya hukum alam di mana-mana sama aja ya? Yang cantik selalu banyak teman, yang nggak cantik akan tersisih? Dipakein baju aneh atau rambut diawur-awurin kayak apa juga, terus terang aja tokoh Carrie yang diperankan Moretz di film ini masih nggak kelihatan layak untuk dibully.

car2

Dari segi akting, penampilan Moretz nggak buruk sih. Cuma kurang kelihatan susah aja. Dengan latar belakang anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal yang aneh dan over-protective, nggak punya teman di sekolah atau di sekitar rumah, dan nggak kelihatan punya gadget atau hobi untuk mengisi waktu luang, seharusnya Carrie bisa terlihat lebih suram dan menyedihkan. Apalagi semua hal ini harus dialaminya sejak lahir dan mencapai puncaknya di masa-masa remaja yang seharusnya dia nikmati.

Dibandingkan Carrie, sosok Margaret malah kelihatan lebih meyakinkan baik dari segi penampilan maupun akting. Julianne Moore yang biasanya terlihat kharismatik di film-filmnya, di sini tampak menakutkan. Rambutnya panjang berantakan dengan sedikit uban di sana-sini untuk memperlihatkan penuaan diri dan stres akibat perbuatannya di masa lalu. Biasanya gue kalau dengar orang nyanyi lagu rohani Kristen akan merasa sedikit damai dan mungkin ikutan bernyanyi kalau gue tahu lagunya. Tapi saat Margaret melakukannya seusai menghukum Carrie di salah satu adegan dalam film ini, yang gue rasakan bukannya damai tapi sedikit takut.

1146139 - CARRIE

Tokoh Margaret ini benar-benar freak. Saking freaknya, gue juga merasa heran melihat orang ‘gila’ yang menyuruh anaknya memakai pakaian tertutup dan sopan tapi malah menjahit baju-baju prom cantik dengan model terbuka. Yah, aneh atau nggak, namanya juga orang, tetap butuh uang untuk hidup, hehehe~

Selain penampilan Margaret dan Carrie di film ini, hal lainnya yang mencuri perhatian gue adalah bagaimana konflik dalam film ini disesuaikan dengan masa kini. Novel Carrie diterbitkan di tahun 1970-an, pastinya teknologi di masa itu belum secanggih sekarang. Namun berkat skrip garapan Laurence D. Cohen dan Roberto Aguirre Sacasa, adegan bullying terhadap Carrie terasa jauh lebih kejam dan lebih mengena untuk penonton, terutama remaja, saat ini.

Secara keseluruhan, film Carrie nggak seseram yang gue bayangkan. Tapi film ini wajib ditonton bagi siapapun yang suka film-film adaptasi novel Stephen King. Cuma satu pesan gue sebelum nonton film ini; Carrie pada dasarnya punya konflik sederhana dengan ending yang mudah ditebak, jadi akan lebih baik nggak lihat trailernya sebelum nonton film ini.

car1

car6

Trivia: Puisi yang Carrie baca di kelas Bahasa Inggrisnya adalah cuilan dari puisi panjang karya John Milton tahun 1671 berjudul Samson Agonistes (Samson the Wrestler).

Quotes: You can only push someone so far before they break. (Sue Snell)

Rating: Jangan ajak cewek yang lagi PMS / haid nonton film ini, hehehe~

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s