[Review] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck-poster

[Review] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (2013)
Date of watching: 3 January 2014
Cinema: 21 Blok M Plaza
Duration: 163 minutes
Screenplay by: Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti, Sunil Soraya
Based on: Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck oleh Buya Hamka
Casts: Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy Nidji
Directed by: Sunil Soraya

Intisari: Zainuddin (Herjunot Ali) adalah pemuda miskin keturunan berdarah campuran Minang dari sang ayah dan Makassar dari sang ibu. Beranjak dewasa, dia memutuskan untuk merantau ke kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang. Nasib mempertemukannya dengan bunga desa Batipuh yang bernama Hayati (Pevita Pearce). Keduanya jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Sayangnya, hubungan mereka ditentang oleh mamak datuak (paman) Hayati yang juga merupakan tetua adat di kampung itu. Zainuddin dianggap tak pantas karena selain yatim piatu dan miskin, dia juga bukan berdarah Minang tulen sehingga tidak memiliki garis keturunan yang jelas dan bisa dibanggakan secara adat.

Muda-mudi itu terpaksa berpisah karena tentangan banyak pihak. Jalan hidup membawa Zainuddin berpindah dari satu kota ke kota lainnya demi mengejar karir sebagai penulis ternama. Sementara Hayati yang dulu berjanji kepadanya untuk setia menunggu, kini telah menikah dengan seorang pria Minang tulen yang kaya raya bernama Aziz (Reza Rahadian). Meski Zainuddin dan Hayati berusaha melupakan kisah cinta mereka, di luar dugaan keduanya justru bertemu kembali di Surabaya. Zainuddin sudah tak lagi miskin dan hina. Namun, mampukah dia memiliki Hayati yang kini sudah menjadi istri orang lain?

###

Sekilas melihat trailernya, nggak salah kalo ada penonton yang merasa film ini mirip Titanic. Ya, soalnya ada adegan kapal segede gaban tenggelam di lautan luas. Penumpang seisi kapal tumpah ruah ke dalam laut sambil berteriak histeris dalam upayanya menyelamatkan diri. Tapi, di luar kapal tenggelam itu, baik Titanic maupun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk menyajikan cerita yang berbeda.

Sama-sama kisah cinta, namun kedua protagonist di dalam film garapan Sunil Soraya ini tidak bertemu di atas kapal yang menjadi setting tempat utama. Film yang diangkat berdasarkan novel karangan Buya Hamka berjudul sama ini nyeritain tentang jalinan cinta yang terhalang adat dan masalah ekonomi. Dengan latar tahun 1930-an, di saat Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda, settingnya terlihat digarap dengan serius dan disesuaikan dengan masa itu.

Gue suka banget sama beberapa properti dalam film ini yang sangat khas; mobil berwarna hitam mengkilap yang dikebut oleh Aziz saat balapan cepat sampai rumah bersama dua teman Belandanya, juga baju-baju vintage era 20-an dan 30-an yang dipakai beberapa figuran di film ini. Sedikit mengingatkan gue sama baju-baju di film The Great Gatsby sih. Untungnya oke-oke aja keliatannya, nggak terlalu mencolok banget walaupun gue nggak dengan setting tempat dan waktu seperti itu (Padang tahun 1930-an) ada cewek-cewek muda lokal yang bisa bergaul dengan mengenakan pakaian begitu.

VDW9

Meskipun udah berusaha sebisa mungkin supaya seluruh properti terlihat meyakinkan, tetap aja ada beberapa kekhilafan minor di film ini yang cukup bikin gue senyum-senyum geli ngeliatnya. Di sebuah adegan, saat Zainuddin melihat tarif potong rambut di sebuah tempat pangkas rambut pria, sebuah kertas putih terlihat menempel di kaca luar salon tersebut. Dan di kertas putih bagus itu tertulis daftar harga dalam bahasa Belanda yang kelihatan sekali diprint dengan tinta modern. Kayak hasil print tugas mahasiswa gitu deh keliatannya. Lho, ini kan tahun 30-an, emangnya ada printer? Tanya sama Sunil Soraya kali ya, kertas print daftar harga pangkas rambutnya siapa yang bikin, hehehe~

Dari unsur cerita, gue suka dengan plot Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Gue belum pernah baca karangannya Buya Hamka yang melandasi film ini sih, tapi gue sangat suka dengan endingnya! Gue rasa kalau dia bisa ngarang cerita cinta model begini, Buya Hamka pasti semasa hidupnya hopeless romantic.

Walaupun film ini cukup lama durasinya, gue nggak merasa bosan nontonnya. Karena alurnya ditata rapi dan bikin gue ngerasa terikat dengan tokoh-tokoh utamanya, terutama Zainuddin. Agak nggak nyangka juga kalau si Junot bisa meranin tokoh pemuda daerah dengan cukup baik, walau beberapa kali aksennya bikin gue ketawa geli.

Hal lain yang di luar dugaan gue adalah chemistry antara Zainuddin dan Hayati yang diperankan Junot dan Pevita. Dua orang seleb muda ini sebelumnya dipertemukan dalam film 5 cm yang bikin gue agak-agak gimanaaaaaa gitu pas ngeliat adegan mereka tiba di puncak gunung dan ngomong sendiri dengan bahasa sok nasionalis, hahaha.. Tapi di film ini, mereka berdua tampil serasi dan baik. Terutama pas adegan berantem dan sedih-sedihan. Beneran pas dan gue ngerasa kayak mereka berdua emang lagi berantem dan sedih-sedihan, bukannya akting. Okelah, kualitas akting mereka berdua makin membaik, gue suka ngeliatnya.

VDW3

VDW8

Dan Reza Rahadian, seperti biasanya, tampil memukau walaupun keliatan lebih bikin emosi jiwa daripada biasanya. Bisa-bisanya Reza yang sebelumnya tampil kharismatik dan penyayang di Habibie & Ainun berubah jadi suami tukang judi, doyan perempuan (eh, apa perempuannya yang doyan sama doi kali ya), dan kasar sama istri. Aktingnya bagus karena sempet bikin gue geregetan pengen nampar mukanya sambil bilang “Dasar suami nggak tau diuntung!”, hahaha~

Overall, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk adalah film Indonesia yang gue suka dan menurut gue layak ditonton. Ini sama sekali berbeda dengan film Titanic, kecuali di bagian kapal tenggelamnya. Gue rasa Buya Hamka menyematkan makna tersendiri kenapa harus ada peristiwa kapal tenggelam dan menjadikan itu sebagai judul dari novelnya.

Kapal Van Der Wijk dalam film ini digambarkan besar, mewah, dan tangguh. Meskipun sudah sering berlayar bolak-balik tanpa masalah, ternyata kapal semegah itu pun bisa tenggelam juga. Sama seperti tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Baik Zainuddin, Hayati, dan Aziz masing-masing memiliki karakter unggulan. Pintar, berwajah rupawan, dan terpandang. Tapi dendam dan penyakit hati lainnya menggerogoti mereka dari dalam dan justru membuat mereka ‘tenggelam’.

Selamat menonton dan terbawa hanyut bersama Kapal Van Der Wijk yang tenggelam.

VDW2

VDW5

Cuma Pevita Pearce yang bisa terjun ke laut dengan pose cantik nan anggun begini~

Trivia: Mobil-mobil tua yang dipakai sebagai properti pendukung film ini merupakan koleksi yang dipinjam dari para kolektor. Berhubung sudah tua dan tidak bisa berjalan dengan baik, pihak produksi sampai harus merogoh uang lebih demi mendatangkan mesin mobil langsung dari Jerman supaya mobil-mobil tersebut bisa berjalan saat dipakai syuting.

Quotes: “Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.” (Zainuddin)

Rating: Terjun dengan sukarela sambil senyum manis dari Kapal Van Der Wijck ke pelukannya Reza Rahadian dalam laut!

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s