[Review] Haunter

Haunter poster

Haunter (2013)
Date of watching: 25 January 2014
Cinema: Blitzmegaplex Grand Indonesia
Duration: 97 minutes
Screenplay by: Brian King
Casts: Abigail Breslin, Stephen McHattie, David Hewlett, Samantha Weinstein
Directed by: Vincenzo Natali

Intisari: Lisa Jhonson (Abigail Breslin) merasa hidupnya membosankan. Setiap hari ia dan keluarganya selalu melewati hari dengan rutinitas yang sama. Ibunya selalu mengoceh tentang pakaian yang dihilangkannya di mesin cuci, ayahnya selalu mengetuk-ngetuk mesin mobil yang rusak, dan adiknya selalu bermain dengan teman khayalan bernama Edgar yang membuat Lisa kesal setengah mati. Anehnya, hanya Lisa yang menyadari bahwa keluarganya selalu melakukan hal yang sama setiap harinya tanpa pernah tahu apa penyebabnya. Frustrasi dengan kebosanannya, Lisa pun mencoba mencari jalan keluar. Sayangnya, dia tidak pernah bisa keluar dari rumahnya karena seseorang tidak akan tinggal diam dan membiarkan Lisa menggali rahasia yang telah terkubur sekian lama.

Hau2

###

Gue bukan tipe orang yang demen ngebocorin cerita suatu film, tapi percaya deh, kalo ada yang udah nonton trailer film ini, nggak mungkin banget nggak nangkep ceritanya tentang apa. Oke fine, daripada gue banyak basa-basi di sini, mendingan gue to the point aja biar gampang ngebahas filmnya.

Lisa sekeluarga nggak bisa keluar dari rumah mereka karena mereka semua udah mati. Mereka hanyalah sekumpulan arwah yang terjebak di rumah di mana mereka ditemukan meninggal dunia. Ini bikin gue kecewa berat. Soalnya sekitar 10-15 menit pertama film ini dimulai, gue masih berharap bahwa Lisa adalah sosok yang hidup dan bernyawa. Apalagi waktu dia beberapa kali ‘digodain’ sama sejumlah keganjilan di rumahnya. Gue pikir ada makhluk lain di rumahnya yang mencari perhatian, meminta tolong, mencoba berkomunikasi gitu-gitu deh khasnya hantu penasaran di rumah tua. Eh, taunya dia yang udah mati dooongg. Aneh banget😦

Okelah, si Lisa ini sebagai tokoh utama pastinya punya tugas tersendiri. Dia harus ngelakuin sesuatu yang bikin dia jadi heroine of the movie. Sayangnya, semua hal yang dia lakukan jadi keliatan konyol dan sia-sia di mata gue karena fakta itu tadi, bahwa dia udah meninggal dunia. Bukan berarti gue nggak setuju dia dan keluarganya diberi peran sebagai arwah gentayangan. Tapi menurut gue filmnya akan jadi positively unexpected kalo hal ini diracik sedemikian rupa dan ditaro di akhir film. Pasti bakalan menimbulkan kesan, “Gila, gue ga nyangka ternyata dia lho hantunya~” atau “Njirr, kok bisa gue nggak nyadar kalo mereka sekeluarga itu sebenernya hantu!”. Kan bakalan lebih keren jadinya.

Sayangnya skrip garapan Brian King kurang bikin greget dan nggak digarap dengan lebih memikat. Jadinya, the moment I knew Lisa and her family were nothing but a bunch of ghosts, gue nggak terlalu simpati sama mereka. Kehilangan simpati sama tokoh-tokoh utama dalam suatu film itu fatal menurut gue. Karena sebagus apapun akting si aktor / aktris, ini akan bikin penonton kurang percaya dan bahkan nggak peduli dengan konflik yang mereka alami. Ya, coba dipikir aja sendiri deh. Ada sekumpulan arwah, udah bukan makhluk hidup lagi lho, tapi masih aja ngurusin urusan yang ada di dunia nyata. Bahkan berusaha buat nyelamatin manusia lain yang masih bernyawa. Yaelahhh, masuk surga aja belom tentu, udah sibuk mikirin orang lain hidupnya gimana~ Heuuuuu…

King terlihat berusaha keras menyisipkan beberapa simbol dalam film ini dengan harapan agar penonton bisa menangkap makna di baliknya. Salah satu contohnya adalah dengan sederet botol kaca berisi kupu-kupu cantik di dalamnya. Ini seperti ingin menggambarkan eksistensi Lisa yang terjebak di rumah terkutuk itu, dan dia nggak sendirian. Ada banyak arwah lainnya yang bernasib sama seperti dia, hanya saja mereka belum ‘sadar’. Simbolisasi ini menurut gue jadi sia-sia karena sampai akhir film pun, penonton nggak pernah digiring untuk memahami kenapa mereka menjadi korban. Dan kenapa pembunuhnya harus melakukan hal tersebut? Nggak jelas banget. Apa gue yang kelewat bodoh nggak nangkep pesan di balik film ini atau emang filmnya yang jelek?

Tapi ya udahlah ya, skripnya udah rusak emang. Jadi daripada ngebahas yang jelek-jeleknya lebih jauh, mendingan gue kulik sisi yang lebih positif dari film ini.

Gue suka dengan akting Abigail Breslin. Kayaknya Cuma dia dan tokoh antagonis Edgar Mullins (Stephen McHattie) yang paling bener di film ini. Yang lainnya hanya terlihat seperti pemanis aja. Bahkan beberapa pemeran di film ini kehadirannya menurut gue nggak terlalu signifikan. Ada atau nggak ada mereka di film ini nggak akan bikin ceritanya jadi lebih bagus atau lebih jelek. Ya, beginilah kekurangan dari sebuah film yang skripnya gagal mengikat hati penonton.

Meski skripnya kurang mengesankan, harus gue akui Breslin dan McHattie sudah tampil semaksimal mungkin. Mulai dari ekspresi wajah, hingga intonasi dalam dialog yang meluncur dari mulut mereka. Nggak keliatan kayak lagi akting. Untuk beberapa saat dalam film ini, ketika tokoh Lisa dan Edgar hanya muncul sendiri atau berdua aja, gue merasa peduli dan ingin tau apa yang bakalan mereka lakukan. Tapi bila mereka muncul bersama tokoh pelengkap penderita yang lain, duh… kebanting banget deh! Kayak nggak dapet chemistrynya.. seolah-olah mereka syuting untuk film yang berbeda karena mereka keliatan bersinar sendiri dibanding pemeran yang lainnya.

Hal lainnya yang masih bisa gue nikmatin dari film ini adalah tata cahaya dan dekorasi rumah yang mendukung kesan menyeramkan. Menurut gue, dua hal inilah yang bikin gue beberapa kali takut nggak jelas. Terutama waktu Lisa memasuki lorong tersembunyi di balik mesin cuci di basement. Gue rasa kalau tata cahaya dan properti yang dipakai juga jelek, film ini sama sekali nggak ada serem-seremnya.

Anyway, ini adalah pendapat gue mengenai Haunter. Bagi beberapa orang lain yang jarang nonton film horror dan gampang ketakutan hanya dengan mendengar derit pintu di malam hari, film ini bisalah jadi pengisi waktu luang. Tapi kalau lo berharap untuk merasa ketakutan dan pulang dari bioskop dengan perasaan was-was ada yang mengikuti dari belakang, well, sayang sekali film ini bukanlah yang lo cari.

Hau4

Hau6

Trivia: Dalam sebuah adegan terlihat Robert, adik Lisa, tengah bermain game Pac-Man versi Atari 2600. Namun suara yang keluar dari game tersebut merupakan suara game Pac-Man versi arcade (*mesin game ding-dong kalo di Indonesia), bukan Atari 2600.

Quotes: Where are you going, Lisa? You know a ghost can never leave his house. (Edgar Mullins)

Rating: Yah, gitu deh :-S

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s